PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) adalah sebuah jaringan televisi swasta nasional di Indonesia yang dimiliki oleh Trans Media. Berkantor pusat di Gedung Trans TV, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jakarta Selatan dan memiliki moto Milik Kita Bersama, konsep tayangnya tidak banyak berbeda dengan televisi swasta lainnya.
Sejarah Kemunculan
Inisiatif untuk mendirikan Trans TV sudah ada dalam pikiran Chairul Tanjung (CT) pada awal 1990-an, dengan saat itu mengajak Direktur utama TVRI, Ishadi S.K. untuk bekerjasama. Walaupun demikian, Ishadi menolaknya karena pemerintah pada saat itu tidak memberikan izin bagi keduanya untuk mewujudkan hal tersebut.[1] Konon, inisiatif tersebut muncul ketika CT mengambilalih sebuah studio yang terlilit kredit macet di Jakarta dari Bank Exim (sekarang Bank Mandiri) dan berusaha memanfaatkannya.[2] Rencana besar CT baru terwujud ketika bersama 4 televisi swasta lain (DVN TV, MTI TV, PRTV dan GIB), pada 12 Oktober 1999 Trans TV berhasil menjadi pemenang seleksi pendirian televisi baru dari Departemen Penerangan. Dengan proposal konsep dan manajemen yang tertata kelola serta hubungan baik dengan pengambil kebijakan, Trans TV berhasil mendapatkan izin tersebut.
Pada 25 Oktober 1999, izin prinsip pendirian untuk Trans TV diberikan, bernomor 798/MP/PM/1999,[3] dan kemudian pada 23 Desember 1999 PT Televisi Transformasi Indonesia resmi didirikan di Jakarta. Nama "Transformasi" (disingkat dengan nama Trans) dipilih setelah melalui serangkaian diskusi, sebagai harapan agar televisi baru ini bisa menjadi yang terdepan di Indonesia. Selain itu, dengan nama yang melekat padanya, diharapkan Trans TV mampu "mentransformasi" Indonesia ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan. Hingga 2001, Trans TV melakukan beberapa persiapan seperti membangun stasiun relai di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, dan Medan, ditambah dengan menyiapkan dana lebih dari Rp 75 miliar dan menjalin kerja sama dengan perusahaan Prancis dan Inggris serta konsultan Australia. Pelatihan juga dilakukan pada karyawannya yang masih belum memiliki pengalaman di TVRI, tempat Ishadi dahulu bekerja.[8] Hal ini karena hampir 250 karyawan awalnya memiliki latar belakang fresh graduate yang direkrut dari seleksi pada 70.000 orang.
Awalnya, Trans TV direncanakan akan bersiaran perdana pada 1 Januari 2001[9] dan 18 Juni 2001, tetapi baru pada 22 Oktober 2001 siaran percobaannya dapat dimulai yang saat itu hanya berupa test card dan dengan cakupan siar yang terbatas di wilayah Jabodetabek. Tiga hari kemudian, siaran percobaannya ditingkatkan dengan menayangkan beberapa acara, terutama program Trans Tune In, yang merupakan acara perkenalan televisi baru ini yang dikemas dengan gaya kuis diiringi penayangan video klip, ditambah perluasan siarannya ke Bandung. Selain acara Trans Tune In yang merupakan produksi pertama Trans TV, juga disiarkan acara lain seperti Jelajah yang merupakan acara features dan laga sepakbola La Liga. Memasuki 1 Desember 2001, acara Trans Tune In digantikan oleh acara Transvaganza, yang merupakan acara perkenalan program-program yang akan disiarkan Trans TV kedepannya. Acara dalam siaran percobaannya kemudian ditambah dengan menayangkan film-film Barat, dan kuis Tebak Harga.[10] Trans TV kemudian resmi menudara secara nasional pada tanggal 15 Desember 2001, lewat sebuah acara grand launching dan tayangan live perdananya "Takbir Akbar Nasional" pukul 18:30 WIB.
Awalnya, Trans TV berencana berkantor di Kebon Jeruk, Jakarta, agar bisa berbagi lokasi dengan pemancar RCTI. Namun, setelah disurvei oleh Ishadi S.K. dan Alex Kumara, di sana tidak ada lahan yang cocok. Akhirnya, Trans TV menempati sebuah gedung yang lahannya dibeli dari PT Barata Indonesia, yang awalnya lahan itu untuk membangun hotel di bagian depan dan apartemen di bagian belakang.[13] Kini, tidak hanya menjadi pusat operasional Trans TV, lokasi di Jl. Tendean tersebut juga menjadi pusat operasional CT Corp.
Kesuksesan Trans TV
Gedung Trans Media di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, kantor pusat Trans TV.
Target acara Trans TV saat awal bersiaran adalah hiburan umum, dengan titik berat di bidang kebudayaan, IPTEK dan olahraga, dengan fokus pasar pada masyarakat kelas menengah ke atas.[14] Pada saat didirikan, diperkirakan Trans TV memakan investasi awal yang mencapai Rp 400-500 miliar.[5][15][16][17] Komposisi programnya mulanya 50-50% lokal dan asing, yang kemudian berubah menjadi 70-30% di tahun berikutnya.[rujukan rusak] Siarannya awalnya hanya berlangsung selama beberapa jam perhari, yang kemudian ditingkatkan menjadi 18 jam pada 1 Maret 2002 yang menandakan Trans TV bersiaran penuh, dan menjadi 20 jam pada September 2002.[11] Saat ini, Trans TV telah mengudara selama 24 jam sehari.
Dalam perkembangannya, dibanding 4 televisi baru lain yang beroperasi pada saat yang sama (Lativi, Global TV, Metro TV dan TV7), Trans TV hingga 2003 merupakan yang paling bagus kinerjanya. Hal ini karena program-programnya, pada umumnya merupakan buatan sendiri (in-house), ditambah program film Barat box office,[18] sehingga dianggap berbeda dari televisi berbasis hiburan yang didominasi sinetron saat itu.[19] Sebenarnya, awalnya program-program Trans TV lebih mengandalkan out-house, tetapi karena strategi ini dianggap tidak menguntungkan, Trans TV mencoba memproduksi programnya sendiri yang rupanya sukses. Diperkirakan, pada akhir 2005, sekitar 67% program Trans TV merupakan acara in-house.[rujukan rusak] Beberapa program in-house Trans TV yang cukup memikat pemirsa, seperti Dunia Lain, Extravaganza, Cantik Indonesia, Wisata Kuliner, dan berbagai program lainnya. Kesuksesan Trans TV juga dibantu oleh sejumlah program sitkom seperti Bajaj Bajuri yang pernah cukup populer. Dalam suatu wawancara di tahun 2003, Ishadi mengungkapkan bahwa selain pemograman, kesuksesan Trans TV juga dipengaruhi faktor lain seperti manajemen berbasis good corporate governance, investasi, dan sumber daya manusia yang berusia muda.
Pada Juli 2003, pendapatan Trans TV sudah mencapai Rp 40 miliar, hampir cukup untuk menutup biaya operasionalnya per bulan, yang artinya adalah 1/2 dari pendapatan Indosiar dan 2 kali dari pendapatan TPI di bulan tersebut, dan menempatkannya di posisi keempat dari 10 jaringan televisi swasta yang ada. Dengan keberhasilan itu, maka di tahun kedua operasionalnya, Trans TV sudah memperoleh titik impas-nya. Bahkan, pada 2006-2007, Trans TV berhasil menanjak menjadi televisi papan atas (peringkat 1-2), dan pendapatannya mencapai Rp 1 triliun menyaingi para pemain lama. Trans TV pun menjadi "batu loncatan" CT demi mengembangkan sayapnya di industri penyiaran nasional dengan membeli mayoritas saham TV7 (ditambah rumor terdahulu akan mengakuisisi jaringan televisi lainnya),[24][25] dan merupakan satu dari sedikit jaringan televisi di Indonesia yang tidak pernah beralih kepemilikan sejak berdiri. Selain CT dan Ishadi, pihak lain yang dianggap berperan dalam kemajuan Trans TV seperti Riza Primadi, Alex Kumara (yang sudah malang-melintang di industri penyiaran nasional), dan kemudian terkhususnya Wishnutama (yang dikenal cukup baik dalam menjadikan Trans TV unggul dalam program-program in-house yang segar).